Ani Silvia's

Sudah lewat setengah sebelas malam, mataku belum terpejam. Jangankan itu, kepalaku saja belum menyentuh bantal. Belum terlalu malam untuk anak zaman sekarang. Lampu masih benderang hingga esok pagi kalau mau. Tapi otakku sudah terlalu lelah. Menyusun segalanya yang belum tersentuh. Masih angan tapi sudah dipikirkan terlalu jauh, padahal belum tentu esok akan berjalan sesuai rancangan. Paling-paling nanti dipikirkan lagi dari awal. Ya begitu siklusnya untuk bulan ini. Penuh dengan tugas, jadwal kegiatan di luar mata kuliah, masalah pertemanan, masalah keluarga dan masalah pribadi dalam kurung ehem hati. Mungkin kata beberapa orang-orang di luar sana jadwal ini belum terlalu padat, setidaknya masih bisa makan dan tidur. Ya, mungkin bagi kalian seperti itu, tapi aku yakin kalian pun pernah berpikir seperti ini di fase ini. Hanya saja lebih dulu hidup dan lebih dulu melewatinya. Aku kan hanya ingin dilihat seperti manusia pada umumnya, menangis, tertawa, mengeluh pada waktunya.

Kadang aku berpikir aku sendirian. Tak ada ucapan kata semangat datang atau rangkulan hangat lengan orang terdekat. Tapi semakin ke depan aku semakin sadar, bukan begini lagi caranya mereka menunjukkan dukungan. Bukan bermanis-manis kata tapi berjalan seiringan, memuji bila diperlukan, mencaci tanpa meninggalkan.


Aku hanya seorang wanita biasa, dengan langkah yang tidak terlalu besar namun ingin memberikan yang terbaik. Dengan langkah yang tidak terlalu besar namun ingin mencapai banyak hal. Aku hanya ingin berguna untuk orang lain tanpa mengacuhkan diriku sendiri. Aku tidak ingin hanya duduk bersandar sambil bermain handphone pintar atau kelekaran sambil menonton film gratisan atau hanya mendengarkan lagu kesukaan sambil menikmati cemilan. Aku ingin bergerak, tapi langkah kaki ku tidak terlalu besar. Jadi tolong hargai aku sebagai sebatas aku, maka aku akan mencoba melangkah melewati batas ku.
Sering aku mencari bayangmu di tengah keramaian
Sering aku mencari matamu di persimpangan
Sering aku menanti langkahmu keluar di ujung jalan
Sering aku meraba cahayamu dalam kegelapan
Namun, semakin sering aku terdiam semakin dalam aku tenggelam
Semakin aku tersadar kamu tak akan pernah datang
Tak akan pernah kita berpapasan
Sekalipun hanya untuk sekedar mengenang
Semakin nyata tak akan ada kisah nyata
Hanya sarat akan bayangan kita
Tak akan kau sentuh sekalipun terpaksa
Semakin nyata untuk menyadarkanku
Bahwa mencintaimu adalah segala yang ku inginkan.


Selamat malam bulan.
Ini masih tentang cinta dan segala bayang di dalamnya.
Tentang kemenangan dalam kekalahan.
Tentang hati yang tak pernah bisa ditata rapi seperti seharusnya.
Juga tentang hati yang tidak pernah teraba seberapa jauhnya.
Aku tidak akan menyuruhmu merasakan bagaimana jadi aku. Setiap hati punya batunya sendiri.
Aku tidak akan menyuruhmu memohon dan membujuk. Aku tidak sesuci itu.
Aku hanya ingin berterimakasih.
Terimakasih telah membuatku merasakan manis, saat dulu kamu sepenuhnya ada di sampingku. Melemparkan senyuman dengan sejuta arti. Menatapku dengan sepasang mata paling indah.
Terimakasih telah membuatku merasa berarti, saat kamu percaya bahwa aku dapat menopang sebagian beban hidupmu. Memberiku ruang untuk masuk dan menyajikan teh untukku.
Terimakasih juga telah memberiku rasa sakit, saat aku berkali-kali disadarkan bahwa ada batas diantara semua itu. Saat jarak semakin jauh untuk diraih. Saat hati semakin tak mungkin meraih.
Terimakasih telah membuatku menyerah lalu bangkit, kemudian menyerah lagi dan bangkit lagi, sampai pada akhirnya aku kalah. Biarkan hati berjalan sesukanya. Ku nikmati manis pahitnya, selagi bisa. Mungkin ini kemenangan untuk yang terkuat. Tapi lihat saja seberapa kuat hati bertahan.

Malam sudah terlalu  larut, tapi abu-abu tak kunjung jadi putih atau hitam. Kini aku harus menarik selimut, bersiap-siap mengahadapi pertemuan kita dalam mimpi. Ini akan menjadi malam yang dingin, mungkin aku akan menggigil.

Selamat malam hujan. Selamat malam badai.

Boleh aku sekedar menuang rasa padamu? Melambai tangan mengibarkan bendera putih kuning abu-abu atau apalah yang dapat melambangkan rasa ini.

Boleh aku meraung kesakitan padamu? Berjanjilah untuk tidak menceramahiku atau mengatur apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin didengar.

Boleh aku menangis di depanmu? Aku butuh tepukan di punggungku atau rangkulan hangatmu.

Aku hanya ingin menangis. Memuntahkan sakit hingga berserakkan. Mengatakan apa yang tertahan. Aku benci pada kebencian. Aku memang tidak pantas mengatakan apa-apa tapi aku kewalahan. Aku ingin teriakan setiap kata pada wajahmu malam. Melampiaskan terik raja siang yang tertahan di cakrawala.


Setelah puas aku mengeluarkan ego ku, tolong hentakkan kata paling menyakitkan. Maki aku atas nasibku. Tapi tolong jangan ceramahi aku, karna aku tau, kesakitan yang paling dalam adalah disaat pikiran kita yang menyakiti diri kita sendiri. Kemudian sejukkan aku dengan angin malam, walau mematikan. Lalu antar aku kembali pada terik itu, dimana semua akan dilanjutkan.
Aku menarik napas dalam. Sedalam yang aku bisa. Tapi semakin ku paksakan untuk memenuhi seluruh rongga paruku, aku malah seakan kehabisan udara untuk ku hirup. Aku pikir ini yang paling sulit aku paksakan, tapi melepasmu jauh lebih berat ketimbang napas. Setiap kali aku dengar kata “napas” aku menghentak arogan untuk langsung menarik dalam-dalam oksigen. Dan setiap kali ku tangkap segala hal tentangmu, aku tersentak tak bernapas. Tahan. Bagaimana bisa melepasmu pelan-pelan? Memulai untuk melakukannya pun aku tak pernah siap. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, kamu pikir lambat laun kamu akan hilang? Ya! Kamu yang hilang, tapi rasa? Bisa kamu kompromi dengan rasa? Bukan hanya kamu yang ingin cepat lepas dari rasa bersalah atas dosa yang tak pernah kamu buat. Aku juga ingin melepas seringan membuang napas menjadi karbon dioksida yang meracun. Aku selalu paksakan itu, tapi semakin kudengar kata “napas” akan semakin sesak. Tak ada pilihan untuk aku yang tak pernah terpilih. Tidak ada pilihan selain menghirup dan menghembuskan, sekalipun sesak. Aku sesak, masih ingin menarik napas, tapi tak ada udara. Aku sesak. 
aku ingat..
waktu itu surya belum tenggelam, sekitar pukul dua lewat. Waktu itu aku masih belum bisa membedakan wanita dan anak perempuan. Mungkin sama seperti orang-orang di sekelilingku, juga tidak bisa membedakan mana pria dan anak laki-laki. Kami disatukan sebagai yang belum bisa membedakan. Tapi kami penikmat kepolosan. Sampai akhirnya mataku didewasakan oleh seorang badut. Wajahnya bersinar sendirian, sebagaimana film mengemasnya seolah malaikat turun ke bumi. Kalau saja film itu diputar, aku akan sangat malu melihat merah di wajahku dan mulut ternganga terpana akan kamu. Seperti dalam cerita cinta biasa, cinta pada pandangan pertama.
Tanpa tau siapa namamu, dari mana asalmu, bagaimana baumu aku bisa bilang cinta. ya mungkin aku anak perempuan yang mendadak menjadi wanita. Tapi memang benar, aku merasakan desiran darah yang mengalir sangat terasa sampai kulitku, dentuman jantungku tak terkendali, aku melemas dan wajahku memelas. Ya! Siapa peduli aku wanita atau anak perempuan, tapi yang aku tau aku jatuh cinta.
Kata cinta tidak lagi se-jijik kedengarannya sekarang,  namun terlalu dewa aku menyebutnya dalam pikiran yang menyeraut. Benar kata Titiek Puspa, jatuh cinta, berjuta rasanya.

Tidak pernah aku memikirkan bagaimana nanti? Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana kita bisa bertemu lagi? Aku hanya memikirkan bagaimana cara mengatur nafas di tengah perasaan kacau ini. Ya, aku tidak pernah memikirkan, bagaimana jika esok kita tidak bertemu lagi?