Selamat malam bulan.
Ini masih tentang cinta dan segala bayang di dalamnya.
Tentang kemenangan dalam kekalahan.
Tentang hati yang tak pernah bisa ditata rapi seperti
seharusnya.
Juga tentang hati yang tidak pernah teraba seberapa jauhnya.
Aku tidak akan menyuruhmu merasakan bagaimana jadi aku. Setiap
hati punya batunya sendiri.
Aku tidak akan menyuruhmu memohon dan membujuk. Aku tidak
sesuci itu.
Aku hanya ingin berterimakasih.
Terimakasih telah membuatku merasakan manis, saat dulu kamu
sepenuhnya ada di sampingku. Melemparkan senyuman dengan sejuta arti. Menatapku
dengan sepasang mata paling indah.
Terimakasih telah membuatku merasa berarti, saat kamu
percaya bahwa aku dapat menopang sebagian beban hidupmu. Memberiku ruang untuk
masuk dan menyajikan teh untukku.
Terimakasih juga telah memberiku rasa sakit, saat aku
berkali-kali disadarkan bahwa ada batas diantara semua itu. Saat jarak semakin
jauh untuk diraih. Saat hati semakin tak mungkin meraih.
Terimakasih telah membuatku menyerah lalu bangkit, kemudian
menyerah lagi dan bangkit lagi, sampai pada akhirnya aku kalah. Biarkan hati
berjalan sesukanya. Ku nikmati manis pahitnya, selagi bisa. Mungkin ini
kemenangan untuk yang terkuat. Tapi lihat saja seberapa kuat hati bertahan.
Malam sudah terlalu larut,
tapi abu-abu tak kunjung jadi putih atau hitam. Kini aku harus menarik selimut,
bersiap-siap mengahadapi pertemuan kita dalam mimpi. Ini akan menjadi malam
yang dingin, mungkin aku akan menggigil.
0 komentar:
Posting Komentar