Ani Silvia's

Dengar

Leave a Comment
Selamat malam hujan. Selamat malam badai.

Boleh aku sekedar menuang rasa padamu? Melambai tangan mengibarkan bendera putih kuning abu-abu atau apalah yang dapat melambangkan rasa ini.

Boleh aku meraung kesakitan padamu? Berjanjilah untuk tidak menceramahiku atau mengatur apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin didengar.

Boleh aku menangis di depanmu? Aku butuh tepukan di punggungku atau rangkulan hangatmu.

Aku hanya ingin menangis. Memuntahkan sakit hingga berserakkan. Mengatakan apa yang tertahan. Aku benci pada kebencian. Aku memang tidak pantas mengatakan apa-apa tapi aku kewalahan. Aku ingin teriakan setiap kata pada wajahmu malam. Melampiaskan terik raja siang yang tertahan di cakrawala.


Setelah puas aku mengeluarkan ego ku, tolong hentakkan kata paling menyakitkan. Maki aku atas nasibku. Tapi tolong jangan ceramahi aku, karna aku tau, kesakitan yang paling dalam adalah disaat pikiran kita yang menyakiti diri kita sendiri. Kemudian sejukkan aku dengan angin malam, walau mematikan. Lalu antar aku kembali pada terik itu, dimana semua akan dilanjutkan.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar