Ani Silvia's

Out Of Breath

Leave a Comment
Aku menarik napas dalam. Sedalam yang aku bisa. Tapi semakin ku paksakan untuk memenuhi seluruh rongga paruku, aku malah seakan kehabisan udara untuk ku hirup. Aku pikir ini yang paling sulit aku paksakan, tapi melepasmu jauh lebih berat ketimbang napas. Setiap kali aku dengar kata “napas” aku menghentak arogan untuk langsung menarik dalam-dalam oksigen. Dan setiap kali ku tangkap segala hal tentangmu, aku tersentak tak bernapas. Tahan. Bagaimana bisa melepasmu pelan-pelan? Memulai untuk melakukannya pun aku tak pernah siap. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, kamu pikir lambat laun kamu akan hilang? Ya! Kamu yang hilang, tapi rasa? Bisa kamu kompromi dengan rasa? Bukan hanya kamu yang ingin cepat lepas dari rasa bersalah atas dosa yang tak pernah kamu buat. Aku juga ingin melepas seringan membuang napas menjadi karbon dioksida yang meracun. Aku selalu paksakan itu, tapi semakin kudengar kata “napas” akan semakin sesak. Tak ada pilihan untuk aku yang tak pernah terpilih. Tidak ada pilihan selain menghirup dan menghembuskan, sekalipun sesak. Aku sesak, masih ingin menarik napas, tapi tak ada udara. Aku sesak. 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar