Ani Silvia's

Senja semakin nyata. Jingga semakin menyala. Sesekali terlihat burung-burung terbang pulang beramai-ramai. Aku menyatukan langit dan senduku. Menunggu senja habis ditendang malam, menunggu kamu yang tak kunjung datang. Mata ku kini tak lagi terfokus pada matahari yang kian menghilang tapi pada ujung jalan dimana terakhir kali bayangmu perlahan memudar. Dalam gelap dan warna jingga yang menipis, berharap kamu akan muncul lagi tepat di ujung jalan itu dan membawa lentera untuk kita. Tapi bayangan yang muncul malah tukang bakso malang yang siap pulang karna dagangannya sudah habis. Lalu kamu? Kapan kamu akan muncul di dunia nyata? Jangan hanya berani menyatroni mimpiku, seakan memaksaku menunggu kamu yang tidak pasti hatinya.

Sudah tiga tahun lebih aku hanya mereka-reka hubungan kita lebih nyata di esok hari. Tapi pudar dan lama-lama hilang harapan itu lalu muncul dan hilang lagi sesukanya. Sudah berapa janji yang kita lewatkan hanya sebagai seonggok perkataan?  sudah berapa kali kamu membuat aku seakan-akan berarti lalu tidak? Tapi ternyata harapan-harapan palsumu yang ku telan bulat-bulat yang aku rindukan.

Aku merindukan baumu yang tengik karna keringatmu yang mengalir deras setelah seharian berlari-lari dipikiranku. Lalu kamu mengadu apa yang hari itu kamu lakukan dan rasakan. Aku rindu ketika kamu fokus menatap mataku sewaktu aku bicara. Semua yang ada padamu aku damba di setiap sepi, bahkan helaan nafasmu.

Senja terlalu singkat untuk dirasakan, tak cukup untuk mencium bau mu yang dihantarkan angin lebih lama lagi. Tak sempat aku menyentuh mu, gelap datang dan membutakan. Aku tidak pernah berani merasakan mu dalam gelap dan angin malam. Aku takut kalap lalu hilang karna terlalu dalam aku menyelam. Cukup sampai jingga hilang, sampai bintang ketiga muncul, aku kembali pada kenyataan, kamu tidak akan pernah pulang.
Setiap orang pasti akan mengalami perubahan-

Yap, itu bener banget. Banyak perubahan yang terjadi sama gue, khususnya di tahun 2013 ini. Dan perubahan yang paling besar itu hijrahnya gue menjadi mahasiswi. Tapi yang belum berubah adalah.. gue masih belum punya KTP. Gue emang udah 17 tahun tapi e-KTP belum sampe ditangan gue dan itu jadi pembatas.

Balik ke maba (mahasiswa baru), gue sudah menetapkan buat kuliah D3 di Politeknik Negeri Media Kreatif di Jakarta Selatan. Ga banyak orang tau tentang kampus gue karna emang masih baru, tapi siapa peduli toh bukan itu tolok ukur nanti lo sukses apa engga. Menurut gue politeknik ini keren karna isinya bener-bener bidang yang gue suka, gue ambil jurusan broadcasting. Sebenernya gue udah diterima di politeknik ini dari bulan Februari kalo ga salah, yang jauh dari pengumuman kelulusan, alhamdulillah banget yak. Awalnya gue sempet bingung mau diambil apa engga, soalnya gue masih nunggu hasil SNMPTN undangan, tapi karna gue pesimis lolos akhirnya gue daftar ulang di Polimedia itu. Dan bener gue ga keterima undangan -_-
Karna gue udah dapet Polimedia gue jadi ga ada minat buat coba cari univ negeri yang lain. Ketika orang-orang sibuk belajar buat tes tulis gue main tidur main tidur, pas orang-orang lagi tes SBMPTN gue lagi main bulutangkis, pas orang-orang tes STIS, STAN, Poltekes, UMBPTN, UM dan Kedinasan gue lagi bereksperimen dengan brownies. Pokoknya gue ga minat buat ikut tes lagi padahal selalu ada peluang untuk lebih baik tapi gue ngerasa gue udah fix disitu. Pernah si sekali-kali ngerasa iri sama yang dapet univ yang keren kayak UI, UNPAD, UGM, IPB (untuk jurusan komunikasi) tapi mau gimana lagi, kuat kuatin motivasi diri aja deh.

Setelah tenang masalah perkuliahan, gue ga sabar menginjak tanah kostan dan kampus. Tapi.. tanggal masuk yang semakin deket malah ngebuat gue semakin ragu dan takut. Jujur, gue sedikit takut perubahan tapi ga butuh waktu lama buat beradaptasi tapi tetep dengan pikiran yang sering flashback. Kebayang aja nanti di kostan siapa yang bangunin pagi-pagi? siapa yang nyariin barang-barang gue kalo gue lupa naro? (nyokap adalah orang yang selalu tau letak barang-barang gue), nanti siapa yang meresin cucian celana jeans dan jaket tebel gue? Nanti siapa yang masakin telor ceplok setengah mateng gue setiap pagi? Nanti siapa yang ngelarang gue buat tidur lewat tengah malem? Nanti siapa yang gue samperin kalo tiba-tiba ada suara misterius? Terus makan pasti kurang gizi karna mie telor selalu menemani demi menghemat uang. Huaaaaah selama ini gue pikir gue mandiri, tapi ternyata gue masih manja, penakut, cengeng, payah. Okeh think positive, semua butuh adaptasi. Mungkin nanti awalnya gue sedikit kewalahan tapi lama-lama pasti biasa.

Lepas dari permasalahan hidup “sendiri” di kostan, pasti banyak tantangan baru di dunia perkuliahan. Temen, mata pelajaran(sekarang mata kuliah), guru (sekarang dosen), ekskul (sekarang UKM*ehbenerkan?), lingkungan, dan peraturan. Dari TK-SMA temen rata-rata sama atau seenggaknya ada beberapa yang kenal, tapi pas kuliah.. beda banget orang-orangnya, Cuma satu yang gue kenal yaitu temen rumah gue yang satu kampus dan alhamdulillah satu kostan juga. Mmm kira-kira di kampus nanti ada geng-gengan juga ga ya kaya waktu masih pake seragam? Apa jangan-jangan bully-bullyan masih berlaku juga. Terus gimana cara bedain mana yang seangkatan sama yang kaka angkatan? Kuliah kan pake baju bebas jadi ga bisa dibedain seragam baru sama seragam buluk pembeda angkatan. Terus pelajaran, dari SD-SMA pelajaran kan itu-itu aja, B.Indonesia, B.Inggris, MTK, IPA, IPS, B.Sunda (eh kuliah ada B.Betawi ga yah? :D) sekarang pasti namanya aneh-aneh dan asing, tapi mungkin gue lebih suka karna emang bidangnya gue suka atau mungkin rasanya kayak ekskul mading setiap hari .-. kembali ke pakaian anak kuliahan yaitu bebas, seneng juga karna lepas dari rok sekolah. Tapi pake baju bebas sedikit aneh, rasanya kaya les setiap hari. Baju bebas mungkin juga sedikit menyulitkan karna seenggaknya gue harus punya setelah rapi dan sopan selama seminggu lah kira-kira, ya masa iya setiap hari cukerpak cukerpak (cuci kering pake). Dan setiap bulannya mesti beli setelan baru lagi. Masalahnya gue males berpakaian rapi dan gue ga terlalu suka beli baju baru (sebenernya karna sayang uang).


Tapi bagaimanapun perasaannya gue harus masuk ke dunia ini, semua orang pasti mengalami perubahan dan ga ada orang yang tiba-tiba sukses tanpa pengorbanan. Jalanin aja dan jangan anggep ini jadi ketakutan.  Ini hidup gals! It’s should be fun! Bersyukur udah di kasih kesempatan buat melangkah lebih jauh lagi. WELCOME FOR ME TO A REAL LIFE! 

Jika sesampainya kamu bisa mengartikan apa yang pernah kutuliskan. Sstt! Aku tidak ingin sesuatu terjadi setelah itu.

Aku sudah menyerah ben!

Aku sudah lelah ben!

Tinggal sisa-sisa air bercampur debu yang tersimpan. Kamu pikir aku lemah? Semudah itu aku menyerah? Nyatanya aku menahan ini sudah terlalu gerah. Bahkan sebelum aku mengenalmu aku sudah tau, aku jatuh cinta.

Aku terlalu kebal untuk dihantamkan lagi, tapi nyatanya setiap hantaman ku tahan sakitnya. Terus terus dan terus kamu lakukan hal yang sama cuma beda cara. Lalu aku? Tersenyum atas kepuasanmu. Tertatih atas keangkuhanku. Aku pikir aku bisa, aku pikir aku tahan, tapi tahan berbatas waktu ben
.
Setelah aku putuskan, aku menyerah *Memang aku bisa apa? Memang apa yang aku lakukan untuk memperjuangkanmu? Hanya menahan* betapa nanti aku akan merindukan aku, kamu, ini. Padahal cuma kamu yang memandangku dengan sudut berbeda, kamu hanya tau apa yang tidak aku bisa, kamu hanya tau aku adalah keledai. Nyatanya memang aku keledai.

Bukan aku pengecut, aku menyerah setelah semua aman. Tapi nyatanya aku dapat hantaman terkeras yang kamu pecutkan. Kali ini aku lemas, kakiku patah. Aku terlalu murah.

Tapi kamu tidak pernah salah ben, kamu hanya tidak tau dan aku tidak akan pernah menyesal, karna rasa sakit yang paling indah adalah menyayangimu.

Terimakasih atas rasanya.

Biarkan ini tetap dijalanya masing-masing. Kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku.
Kamu tau? Kadang rasa, pikir, dan kata tidak sejalan.

Permainan seperti apalagi yang kamu buat? Untuk kita mainkan sebagai dua bodoh yang masa bodo. Kamu selalu disampingku sebagai teman, salah, yang ada aku yang selalu disampingmu sebagai..

Tak banyak batu yang bisa kita pecahkan, tapi nyatanya banyak batu dapat kita ukir. Tak banyak kemenangan yang kita raih tapi nyatanya kita hampir meraih mimpi kita. Mimpi-mimpi yang kamu ceritakan saat kita kabur dalam pelajaran sekolah yang membosankan. Mimpi-mimpimu, bukan mimpi-mimpiku. Kamu tidak tahu kan? Karna kamu sepertinya tidak peduli beberapa tahun lagi apa aku masih ada atau tiada.

Hey! Indah-indahmu menyerangku lagi, kamu memang melindungiku, tapi kamu terus memperbanyak indahmu dan mematikanku. Begitu senangnya melihatmu tertawa bersama mereka, indah-indahmu. Dan kapaaan aku menjadi salah satu dari mereka, yang posisinya berbeda dari sekedar teman biasa.

Oh no! apa yang aku pikirkan gila, tapi nyatanya aku jatuh cinta. Sebenarnya sejak tiga tahun lalu. Tapi aku terlalu malas merasakannya terlalu dalam, tapi nyatanya aku berkata seperti ini sejak pertama aku sadar, tiga tahun yang lalu. Bahkan sebelum kita saling kenal, dan aku mengenalmu lebih dulu, dan nyatanya sampai sekarang kamu tidak pernah benar-benar mengenalku.

Aku hanya terlalu takut semuanya berubah, manismu tak lagi dapat ku tahan diam-diam. Takut kita terlalu canggung untuk tertawa bersama lagi. Takut kamu tidak akan menceritakan hidupmu lagi. Takut kamu terlalu takut bertindak karna takut melukaiku, padahal aku sudah terbiasa dengan pahit-pahit yang kamu sayatkan.

Sepertinya aku terlalu lancang untuk menyebutkan “kita” yang nyatanya kamu tidak pernah benar-benar mengartikan “kita” dalam. Sudahlah, sepertinya aku akan terus merasakan manis yang kadang kemanisan hingga pahit ini sampai semua larut dan lama-lama hilang. Kalau ada ya dinikmati, kalau tidak ada ya nikmati saja hambarnya. Entah kapan hilangnya..





extreamly amazing wonderful place <3 am gonna be there! ITALY

Pada dasarnya semua orang punya perasaan, walau emang bener sih cewe yang lebih sering make perasaannya dari pada cowo. Tapi pasti ada beberapa cowok yang sering make perasaannya dibanding logikanya, dan pasti ada juga cewek yang jarang make perasaan dan lebih sering make logikanya.
Dan entah kenapa menurut se-penglihatan gue cewe lebih sering make perasaannya untuk sesuatu yang menyedihkan, padahal seneng itu termasuk perasaan. Tapi mereka kadang menyanggah orang yang seneng atas sesuatu yang mereka anggap menyedihkan dengan bilang “ih ga punya perasaan banget sih lo!” padahal orang itu mempunyai perasaan senang, harusnya kalo mau nyanggah bilangnya “ih ga punya perasaan kasian banget sih lo” nah.
Dalam penglihatan gue juga, banyak orang yang lagi punya perasaan sedih dan mengumbar itu dimana-mana, gue mmungkin termasuk tapi ga sering kok ._. Tujuannya ya menurut gue bisa jadi ngodein orang yang dimaksud, atau ingin membagi kesedihan, atau ingin menunjukan ke orang-orang kalo kita sedang sedih, atau bisa jadi biar keliatan eksis aja. Kalo gue cenderung ke yang pertama, jujur kan B). misalnya di media sosial kaya twitter. Kalo kebanyakan orang kaya yang gue sebutin diatas dan dilakukan terus-terusan itu jadi timeline apa novel romance? Kalo lagi suntuk terus buka twitter dan blaaa.. yang ada kita kebawa galau dan tambah suntuk. Jadi kalo sedih aja diumbar-umbar, masa pas seneng engga, biar orang sekitar ga tambah suntuk mulu.
Ngomong-ngomong soal perasaan, pasti kita pernah atau sering malah ngerasain sakit. Secara ga sadar perasaan sakit itu nikmat juga. Coba deh rasain perasaan kita pas lagi sakit atau bener-bener nyesek, rasain, terus rasain, rasain nyeseknya, semakin nyesek, semakin dalem, semakin sakit, semakin menikmati, nah!!! Itu punya seninya sendiri, adrenalin kita serasa kepacu gitu ngerasainnya. Kan.. ga usah jauh-jauh tuh ke dufan buat macu adrenalin. Kalo kita lagi galau ya.. jangan dibawa sedih-sedih banget lah, nikmatin aja perasaan itu selagi di kasih kesempatan. Tapi jangan diterapin sering-sering, selama proses move on aja. Jadi jangan suka ngeluh karna rasa sakit hati.
Duh, perasaan emang susah dikendaliin ya. Sedih, kesel, seneng emang ga bisa kita atur kapan datengnya dan kapan hilangnya, yang ada kita ngatur sikap kita atas perasaan itu. Jangan terlalu ditunjukin dan jangan terlalu disembunyiin.


Manusia diciptain berbeda. Beda secara fisik, mental, hati, dan pikiran. Kayanya semua orang udah tau tentang itu, tapi kenapa mereka selalu memaksakan untuk satu pikiran atau satu perasaan *eh. Padahal beda itu yang bikin kita sejalan. Padahal beda itu bikin kita lebih berpikir. Padahal beda itu lebih punya konflik yang nantinya jadi cerita. Dan padahal beda itu yang nantinya kita rindukan setelah semuanya sama.
Ada 2 tipe orang di konteks ini. Pertama adalah orang yang ga mau nunjukin perbedaannya, kedua orang yang terang-terangan nunjukin perbedaannya. Yang pertama, orang ini selalu bilang “iya! Iya! Ih samaaa!!” padahal dia ga berpikir seperti itu. Sikapnya itu pasti punya alesan, bisa karna dia takut ga punya temen karna dia beda, bisa karna gengsi karna mayoritas orang berpikir seperti itu sedangkan dia enggak, juga bisa karna dia males ngungkit sesuatu yang panjang urusannya kalau dia sampe berpikiran beda, dan masih banyak bisa karna – bisa karna yang lain. Kedua, orang ini selalu nyatain pendapat dia kalo misalnya dia beda pikiran. Bagus ini, tapi kadang orang kaya gini juga harus berpikir buat ‘yaudahlah’ kita aja boleh punya pikiran beda gini, kita juga harus bisa nerima pendapat orang lain, jangan malah kokoh dan ngotot sama pendapat sendiri dan orang lain dipaksain untuk punya satu pikiran.
Jangan sampe kita pake topeng dengan tulisan “iya!sama!” itu bakal nyiksa rasa nyaman kita di dalam lingkungan itu. Lagian lingkungan yang baik itu ya nerima kita apa adanya, dengan bagaimana cara pikir kita, dan mereka pastinya harus saling menghargai. Tapi juga jangan terlalu melepas kulit wajah sampe semua pikiran kita keliatan. Kontrol emosi dan belajar menghargai. Etika kita dituntut disini, jangan sampai salah omong.
Sampaikan pendapat anda dan “yaudahlah”. Cari jalan tengah atau biarkan ditepi masing-masing, sesuai kebutuhan aja.
Ini pendapatku, apa pendapatmu?