Jika sesampainya kamu bisa mengartikan apa yang pernah
kutuliskan. Sstt! Aku tidak ingin sesuatu terjadi setelah itu.
Aku sudah menyerah ben!
Aku sudah lelah ben!
Tinggal sisa-sisa air bercampur debu yang tersimpan. Kamu pikir
aku lemah? Semudah itu aku menyerah? Nyatanya aku menahan ini sudah terlalu
gerah. Bahkan sebelum aku mengenalmu aku sudah tau, aku jatuh cinta.
Aku terlalu kebal untuk dihantamkan lagi, tapi nyatanya
setiap hantaman ku tahan sakitnya. Terus terus dan terus kamu lakukan hal yang
sama cuma beda cara. Lalu aku? Tersenyum atas kepuasanmu. Tertatih atas
keangkuhanku. Aku pikir aku bisa, aku pikir aku tahan, tapi tahan berbatas
waktu ben
.
Setelah aku putuskan, aku menyerah *Memang aku bisa apa? Memang
apa yang aku lakukan untuk memperjuangkanmu? Hanya menahan* betapa nanti aku
akan merindukan aku, kamu, ini. Padahal cuma kamu yang memandangku dengan sudut
berbeda, kamu hanya tau apa yang tidak aku bisa, kamu hanya tau aku adalah
keledai. Nyatanya memang aku keledai.
Bukan aku pengecut, aku menyerah setelah semua aman. Tapi nyatanya
aku dapat hantaman terkeras yang kamu pecutkan. Kali ini aku lemas, kakiku
patah. Aku terlalu murah.
Tapi kamu tidak pernah salah ben, kamu hanya tidak tau dan
aku tidak akan pernah menyesal, karna rasa sakit yang paling indah adalah
menyayangimu.
Terimakasih atas rasanya.
Biarkan ini tetap dijalanya masing-masing. Kamu dengan
jalanmu dan aku dengan jalanku.
Kamu tau? Kadang rasa, pikir, dan kata tidak sejalan.
0 komentar:
Posting Komentar