Senja semakin nyata. Jingga semakin menyala. Sesekali terlihat
burung-burung terbang pulang beramai-ramai. Aku menyatukan langit dan senduku. Menunggu
senja habis ditendang malam, menunggu kamu yang tak kunjung datang. Mata ku
kini tak lagi terfokus pada matahari yang kian menghilang tapi pada ujung jalan
dimana terakhir kali bayangmu perlahan memudar. Dalam gelap dan warna jingga
yang menipis, berharap kamu akan muncul lagi tepat di ujung jalan itu dan
membawa lentera untuk kita. Tapi bayangan yang muncul malah tukang bakso malang
yang siap pulang karna dagangannya sudah habis. Lalu kamu? Kapan kamu akan
muncul di dunia nyata? Jangan hanya berani menyatroni mimpiku, seakan memaksaku
menunggu kamu yang tidak pasti hatinya.
Sudah tiga tahun lebih aku hanya mereka-reka hubungan kita
lebih nyata di esok hari. Tapi pudar dan lama-lama hilang harapan itu lalu
muncul dan hilang lagi sesukanya. Sudah berapa janji yang kita lewatkan hanya
sebagai seonggok perkataan? sudah berapa
kali kamu membuat aku seakan-akan berarti lalu tidak? Tapi ternyata
harapan-harapan palsumu yang ku telan bulat-bulat yang aku rindukan.
Aku merindukan baumu yang tengik karna keringatmu yang
mengalir deras setelah seharian berlari-lari dipikiranku. Lalu kamu mengadu apa
yang hari itu kamu lakukan dan rasakan. Aku rindu ketika kamu fokus menatap
mataku sewaktu aku bicara. Semua yang ada padamu aku damba di setiap sepi,
bahkan helaan nafasmu.
Senja terlalu singkat untuk dirasakan, tak cukup untuk
mencium bau mu yang dihantarkan angin lebih lama lagi. Tak sempat aku menyentuh
mu, gelap datang dan membutakan. Aku tidak pernah berani merasakan mu dalam
gelap dan angin malam. Aku takut kalap lalu hilang karna terlalu dalam aku
menyelam. Cukup sampai jingga hilang, sampai bintang ketiga muncul, aku kembali
pada kenyataan, kamu tidak akan pernah pulang.

0 komentar:
Posting Komentar