Ani Silvia's

Selamat malam bulan.
Ini masih tentang cinta dan segala bayang di dalamnya.
Tentang kemenangan dalam kekalahan.
Tentang hati yang tak pernah bisa ditata rapi seperti seharusnya.
Juga tentang hati yang tidak pernah teraba seberapa jauhnya.
Aku tidak akan menyuruhmu merasakan bagaimana jadi aku. Setiap hati punya batunya sendiri.
Aku tidak akan menyuruhmu memohon dan membujuk. Aku tidak sesuci itu.
Aku hanya ingin berterimakasih.
Terimakasih telah membuatku merasakan manis, saat dulu kamu sepenuhnya ada di sampingku. Melemparkan senyuman dengan sejuta arti. Menatapku dengan sepasang mata paling indah.
Terimakasih telah membuatku merasa berarti, saat kamu percaya bahwa aku dapat menopang sebagian beban hidupmu. Memberiku ruang untuk masuk dan menyajikan teh untukku.
Terimakasih juga telah memberiku rasa sakit, saat aku berkali-kali disadarkan bahwa ada batas diantara semua itu. Saat jarak semakin jauh untuk diraih. Saat hati semakin tak mungkin meraih.
Terimakasih telah membuatku menyerah lalu bangkit, kemudian menyerah lagi dan bangkit lagi, sampai pada akhirnya aku kalah. Biarkan hati berjalan sesukanya. Ku nikmati manis pahitnya, selagi bisa. Mungkin ini kemenangan untuk yang terkuat. Tapi lihat saja seberapa kuat hati bertahan.

Malam sudah terlalu  larut, tapi abu-abu tak kunjung jadi putih atau hitam. Kini aku harus menarik selimut, bersiap-siap mengahadapi pertemuan kita dalam mimpi. Ini akan menjadi malam yang dingin, mungkin aku akan menggigil.

Selamat malam hujan. Selamat malam badai.

Boleh aku sekedar menuang rasa padamu? Melambai tangan mengibarkan bendera putih kuning abu-abu atau apalah yang dapat melambangkan rasa ini.

Boleh aku meraung kesakitan padamu? Berjanjilah untuk tidak menceramahiku atau mengatur apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin didengar.

Boleh aku menangis di depanmu? Aku butuh tepukan di punggungku atau rangkulan hangatmu.

Aku hanya ingin menangis. Memuntahkan sakit hingga berserakkan. Mengatakan apa yang tertahan. Aku benci pada kebencian. Aku memang tidak pantas mengatakan apa-apa tapi aku kewalahan. Aku ingin teriakan setiap kata pada wajahmu malam. Melampiaskan terik raja siang yang tertahan di cakrawala.


Setelah puas aku mengeluarkan ego ku, tolong hentakkan kata paling menyakitkan. Maki aku atas nasibku. Tapi tolong jangan ceramahi aku, karna aku tau, kesakitan yang paling dalam adalah disaat pikiran kita yang menyakiti diri kita sendiri. Kemudian sejukkan aku dengan angin malam, walau mematikan. Lalu antar aku kembali pada terik itu, dimana semua akan dilanjutkan.