Ani Silvia's




Awan tak pernah marah padamu sebab tiada. Ia hanya memberi ruang pada matahari, pada bulan, pada burung, pada bintang. Agar kamu tersenyum dan bukan muram. Langit tak pernah menangis sebab ia hujamkan air pada bumi.  Ia hanya ingin mebasahi yang sudah terlalu kering. Memberi aroma tanah pada jiwa-jiwa yang ketakutan, yang kelelahan, yang kecewa, yang resah. Jangan lari berputar-putar wahai jiwa yang kebingungan, kamu akan mual. Jangan pukul dadamu berkali-kali sebab tak tahan dengan kesakitan. Berlarilah keluar dan pukul setiap orang yang menghadang. Mungkin mereka tak akan sembuhkanmu tapi mereka tau kesakitanmu. Bila itu terlalu jahat maka serahkan dirimu pada alam yang membawa nafasmu bebas. Benamkan dirimu pada tanah sehabis hujan, maka aromamu senantiasa membias dan menyejukan. Kamu tidak bersalah sayang. Kamu hanya butuh sadar. 
Siapa sangka aku terjatuh pada hati yang lapang tanpa tanda. Tanpa rencana. Kamu menuangnya dengan sederhana. Sempurna. Menyentuhku dengan lembut bahkan dengan bayang kasat mata. Mempersilahkanku masuk tanpa paksa. Memberiku ruang untuk berjalan seiringan. Menunggu ragu hilang dan beranjak dari sudut ruangan. Terimakasih telah bertahan. Berjanjilah untuk tetap bertahan.
Kalau saja karsa dapat berjalan sesempurna rasa, kamu pasti disini. Menggenggam harapan-harapan ku. Berjalan di sampingku. Kalau saja yang kamu takutkan adalah aku maka benar. Menerjemahkan segala angan dan angin yang menyemilirkan rasa. Kita hanya sedang pura-pura mengabaikan, mengalihkan rasa pada jalan-jalan yang semerawut, menjaga baik-baik ketakutan setelah ini. Mengabaikan cita pada kelelahan berjalan sendirian. Kalau saja aku bisa melakukan lebih banyak ketimbang diam. Tapi kamu selalu punyaa perencanaan. Aku menaruh keyakinan pada hati yang selalu siap untuk dipatahkan lagi. Kalau saja aku bisa berjalan sambil khayang, mungkin sedikit meringankan kengiluan dalam hati yang selalu penasaran. Memeriksa segala kemungkinan. Kalau saja bisa aku melakukan lebih banyak ketimbang diam. 
Di sudut ruang tergelap, aku menekuk lutut dan memeluknya erat. disini terlalu sepi. aku hanya bisa dengar suara nafas ku sendiri, suara sunyi. aku butuh lentera atau semacamnya yang berikan aku cahaya. yang menuntunku keluar dari ruang hampa. kemudian ia datang. bentuknya seperti lilin namun virtual. tanpa peduli palsu aku terbawa. mengikuti cahaya. mana? kapan kita sampai? Seperti tidak ada tanda-tanda cahaya yang lebih nyata. jalannya tak berujung. aku sudah terlalu jauh dari sudut ruang untuk kembali. dan sudah semakin tak nyata untuk terus aku ikuti. kemudian yang aku takutkan terjadi. cahaya mati tanpa membawaku kemana-mana. aku berada di tengah ruang gelap. makin buruk tanpa sandaran. kamu bohong lilin. kenapa kamu selalu bohong? Kamu tidak membawaku kemana-mana. aku malah makin tersesat. kamu buat aku berdusta pada sunyi. kamu bohong lilin. atau aku yang sinting? padahal aku tau kamu memang tak pernah nyata.
Berhentilah untuk saling ditemukan lalu kamu diam. Kalian tidak akan saling mengenal apalagi mengenang. Jangan menunggu malam yang sampaikan salam sementara kamu bisa bilang selamat malam. Jangan kamu pura-pura tidak tahu kalau kamu adalah pilihan sementara dia tetap diam. Jangan kamu saling mengalihkan pandangan untuk mengalihkan perasaan. Ragu itu tak akan hilang jika tak kamu buktikan. Sapa lah barang sekali atau dua kali. Bukan untuk sekedar memastikan, tapi mengeluarkan apa yang telah lama tenggelam.


-yang juga meminta untuk ditemukan
Kamu jangan mencari, cinta bukan untuk ditemukan. Percuma kamu berlari, ia tak mau di kejar. Ini bukan tentang siapa yang benar. Bukan yang mana yang tepat untuk didapatkan. Tapi bagaimana berjalan seiringan, saling mengingatkan tanpa paksaan, saling membenahi tanpa menggurui. Maka kamu akan tahu bagaimana indahnya kesalahan, bagaimana berdiri setelah terjatuh, bagaimana rasanya di atas ketika lelah menjadi tumpuan. Bagaimana proses menjadikanmu seseorang suatu hari nanti.


Salah sendirian memang memalukan. Maka lakukanlah berdua.
aku duduk di kursi di antara angin dan debu. menelusup bayang di antara kecepatan. aku mengamati setiap punggung, mencari mata yang dirindukan, menelisik bau khas bajumu.
jangan tanya aku untuk apa. candu membawaku duduk tanpa tau. mencari jawaban pada pertanyaan yang belum terucap. sepertinya aku terlahir baru. untuk kembali menunggu.

jangan khawatir aku tidak akan mengganggu :)
Kamu pernah liat orang menahan senyumnya saat bicara sama kamu? melihat matanya berbinar saat bertemu kamu? tiba-tiba namanya kamu sebut dalam doa?
kalau iya, pertimbangkan dia.