Aku menarik napas dalam. Sedalam yang aku bisa. Tapi semakin
ku paksakan untuk memenuhi seluruh rongga paruku, aku malah seakan kehabisan
udara untuk ku hirup. Aku pikir ini yang paling sulit aku paksakan, tapi melepasmu
jauh lebih berat ketimbang napas. Setiap kali aku dengar kata “napas” aku
menghentak arogan untuk langsung menarik dalam-dalam oksigen. Dan setiap kali
ku tangkap segala hal tentangmu, aku tersentak tak bernapas. Tahan. Bagaimana bisa
melepasmu pelan-pelan? Memulai untuk melakukannya pun aku tak pernah siap. Sehari,
dua hari, seminggu, dua minggu, kamu pikir lambat laun kamu akan hilang? Ya! Kamu
yang hilang, tapi rasa? Bisa kamu kompromi dengan rasa? Bukan hanya kamu yang
ingin cepat lepas dari rasa bersalah atas dosa yang tak pernah kamu buat. Aku juga
ingin melepas seringan membuang napas menjadi karbon dioksida yang meracun. Aku
selalu paksakan itu, tapi semakin kudengar kata “napas” akan semakin sesak. Tak
ada pilihan untuk aku yang tak pernah terpilih. Tidak ada pilihan selain
menghirup dan menghembuskan, sekalipun sesak. Aku sesak, masih ingin menarik
napas, tapi tak ada udara. Aku sesak.