Ani Silvia's

Senja semakin nyata. Jingga semakin menyala. Sesekali terlihat burung-burung terbang pulang beramai-ramai. Aku menyatukan langit dan senduku. Menunggu senja habis ditendang malam, menunggu kamu yang tak kunjung datang. Mata ku kini tak lagi terfokus pada matahari yang kian menghilang tapi pada ujung jalan dimana terakhir kali bayangmu perlahan memudar. Dalam gelap dan warna jingga yang menipis, berharap kamu akan muncul lagi tepat di ujung jalan itu dan membawa lentera untuk kita. Tapi bayangan yang muncul malah tukang bakso malang yang siap pulang karna dagangannya sudah habis. Lalu kamu? Kapan kamu akan muncul di dunia nyata? Jangan hanya berani menyatroni mimpiku, seakan memaksaku menunggu kamu yang tidak pasti hatinya.

Sudah tiga tahun lebih aku hanya mereka-reka hubungan kita lebih nyata di esok hari. Tapi pudar dan lama-lama hilang harapan itu lalu muncul dan hilang lagi sesukanya. Sudah berapa janji yang kita lewatkan hanya sebagai seonggok perkataan?  sudah berapa kali kamu membuat aku seakan-akan berarti lalu tidak? Tapi ternyata harapan-harapan palsumu yang ku telan bulat-bulat yang aku rindukan.

Aku merindukan baumu yang tengik karna keringatmu yang mengalir deras setelah seharian berlari-lari dipikiranku. Lalu kamu mengadu apa yang hari itu kamu lakukan dan rasakan. Aku rindu ketika kamu fokus menatap mataku sewaktu aku bicara. Semua yang ada padamu aku damba di setiap sepi, bahkan helaan nafasmu.

Senja terlalu singkat untuk dirasakan, tak cukup untuk mencium bau mu yang dihantarkan angin lebih lama lagi. Tak sempat aku menyentuh mu, gelap datang dan membutakan. Aku tidak pernah berani merasakan mu dalam gelap dan angin malam. Aku takut kalap lalu hilang karna terlalu dalam aku menyelam. Cukup sampai jingga hilang, sampai bintang ketiga muncul, aku kembali pada kenyataan, kamu tidak akan pernah pulang.