Dalam palung beralaskan bimbang aku berteduh berpayung harapan.
Sesekali mengintip jalan keluar dari pilihan.
Aku di tawarkan dua, sama sama merugi pada diri sendiri.
Pertama dibunuh secara perlahan-lahan, kedua membunuh diri sendiri secara langsung.
Sayatan tajam sang lidah juga ludah akan di daratkan pada hati tergalau.
Terbesit jutaan kali oleh mata si kucing.
Aku awali dengan kebutaan dan harus aku akhiri dengan penderitaan.
Dunia memojokanku sekarang seakan akan aku simpanse terburuk dari simpanse lainnya.
Seperti akar tak mampu raih pucuk, seperti aku seperti kisahku.
Seperti merubah dongeng yang berakhir bahagia.
Hanya harapan hanya lamunan.
Ketika aku pilih dibunuh secara perlahan lahan, satu potong puzzle hilang.
Kekhawatiran yang mendekati kebenaran.
Lalu aku pilih.. masih bimbang atau aku terlalu egois?
0 komentar:
Posting Komentar