Ani Silvia's

Di sudut ruang tergelap, aku menekuk lutut dan memeluknya erat. disini terlalu sepi. aku hanya bisa dengar suara nafas ku sendiri, suara sunyi. aku butuh lentera atau semacamnya yang berikan aku cahaya. yang menuntunku keluar dari ruang hampa. kemudian ia datang. bentuknya seperti lilin namun virtual. tanpa peduli palsu aku terbawa. mengikuti cahaya. mana? kapan kita sampai? Seperti tidak ada tanda-tanda cahaya yang lebih nyata. jalannya tak berujung. aku sudah terlalu jauh dari sudut ruang untuk kembali. dan sudah semakin tak nyata untuk terus aku ikuti. kemudian yang aku takutkan terjadi. cahaya mati tanpa membawaku kemana-mana. aku berada di tengah ruang gelap. makin buruk tanpa sandaran. kamu bohong lilin. kenapa kamu selalu bohong? Kamu tidak membawaku kemana-mana. aku malah makin tersesat. kamu buat aku berdusta pada sunyi. kamu bohong lilin. atau aku yang sinting? padahal aku tau kamu memang tak pernah nyata.
Berhentilah untuk saling ditemukan lalu kamu diam. Kalian tidak akan saling mengenal apalagi mengenang. Jangan menunggu malam yang sampaikan salam sementara kamu bisa bilang selamat malam. Jangan kamu pura-pura tidak tahu kalau kamu adalah pilihan sementara dia tetap diam. Jangan kamu saling mengalihkan pandangan untuk mengalihkan perasaan. Ragu itu tak akan hilang jika tak kamu buktikan. Sapa lah barang sekali atau dua kali. Bukan untuk sekedar memastikan, tapi mengeluarkan apa yang telah lama tenggelam.


-yang juga meminta untuk ditemukan