Di sudut ruang tergelap, aku menekuk lutut dan memeluknya
erat. disini terlalu sepi. aku hanya bisa dengar suara nafas ku sendiri, suara
sunyi. aku butuh lentera atau semacamnya yang berikan aku cahaya. yang
menuntunku keluar dari ruang hampa. kemudian ia datang. bentuknya seperti lilin
namun virtual. tanpa peduli palsu aku terbawa. mengikuti cahaya. mana? kapan
kita sampai? Seperti tidak ada tanda-tanda cahaya yang lebih nyata. jalannya
tak berujung. aku sudah terlalu jauh dari sudut ruang untuk kembali. dan sudah
semakin tak nyata untuk terus aku ikuti. kemudian yang aku takutkan terjadi.
cahaya mati tanpa membawaku kemana-mana. aku berada di tengah ruang gelap.
makin buruk tanpa sandaran. kamu bohong lilin. kenapa kamu selalu bohong? Kamu tidak
membawaku kemana-mana. aku malah makin tersesat. kamu buat aku berdusta pada
sunyi. kamu bohong lilin. atau aku yang sinting? padahal aku tau kamu memang
tak pernah nyata.
Berhentilah untuk saling ditemukan lalu kamu diam. Kalian tidak
akan saling mengenal apalagi mengenang. Jangan menunggu malam yang sampaikan
salam sementara kamu bisa bilang selamat malam. Jangan kamu pura-pura tidak
tahu kalau kamu adalah pilihan sementara dia tetap diam. Jangan kamu saling
mengalihkan pandangan untuk mengalihkan perasaan. Ragu itu tak akan hilang jika
tak kamu buktikan. Sapa lah barang sekali atau dua kali. Bukan untuk sekedar
memastikan, tapi mengeluarkan apa yang telah lama tenggelam.
-yang juga meminta untuk ditemukan