aku ingat..
waktu itu surya belum tenggelam, sekitar pukul dua lewat.
Waktu itu aku masih belum bisa membedakan wanita dan anak perempuan. Mungkin
sama seperti orang-orang di sekelilingku, juga tidak bisa membedakan mana pria
dan anak laki-laki. Kami disatukan sebagai yang belum bisa membedakan. Tapi
kami penikmat kepolosan. Sampai akhirnya mataku didewasakan oleh seorang badut.
Wajahnya bersinar sendirian, sebagaimana film mengemasnya seolah malaikat turun
ke bumi. Kalau saja film itu diputar, aku akan sangat malu melihat merah di
wajahku dan mulut ternganga terpana akan kamu. Seperti dalam cerita cinta
biasa, cinta pada pandangan pertama.
Tanpa tau siapa namamu, dari mana asalmu, bagaimana baumu
aku bisa bilang cinta. ya mungkin aku anak perempuan yang mendadak menjadi
wanita. Tapi memang benar, aku merasakan desiran darah yang mengalir sangat
terasa sampai kulitku, dentuman jantungku tak terkendali, aku melemas dan
wajahku memelas. Ya! Siapa peduli aku wanita atau anak perempuan, tapi yang aku
tau aku jatuh cinta.
Kata cinta tidak lagi se-jijik kedengarannya sekarang, namun terlalu dewa aku menyebutnya dalam
pikiran yang menyeraut. Benar kata Titiek Puspa, jatuh cinta, berjuta rasanya.
Tidak pernah aku memikirkan bagaimana nanti? Bagaimana
kelanjutannya? Bagaimana kita bisa bertemu lagi? Aku hanya memikirkan bagaimana
cara mengatur nafas di tengah perasaan kacau ini. Ya, aku tidak pernah
memikirkan, bagaimana jika esok kita tidak bertemu lagi?